Selasa, 18 Maret 2014

RINGKASAN BUKU THEORIES OF LEARNING 16




RINGKASAN
Judul buku    : Theories Of Learning 7th Edition
Pengarang    : B.R. Hergenhahn, Mathew H. Olson
Nama  : Rizaldi Fida Setiawan
NIM    : 5101413010
Blog    : rizaldifidasetiawan.blogspot.com


BAB XVI
PENUTUP
Di bab terakhir ini kita akan membahas tren dalam teori belajar mutakhir. Diskusi kita ini bukan menuduh bahwa informasi yang disajikan di bab – bab sebelumnya sudah usang. Hampir segala sesuatu yang terjadi dalam teori belajar belakangan ini, dalam beberapa hal adalah perluasan dari salah satu teori belajar utama yang disjikan dalam buku ini. Untuk memahami perluasan ini kita perlu memahami teori yang mnjadi sumbernya.
TREN TERBARU DALAM TEORI BELAJAR
Setidaknya ada empat tren utama dalam pendekatan studi belajar dewasa ini. Pertama, teori belajar saat ini lebih sederhana cakupannya. Ketimbang berusaha menjelaskan semua aspek proses belajar, teoretisi saat ini sudah cukup puas meneliti beberapa aspek dari proses belajar. Kedua, ada penekanan pada neurofisiologi belajar. Ketiga, proses kognitif seperti pembentukan konsep, pengambilan resiko, dan pemecahan masalah kembali menjadi topik studi yang populer. Keempat, ada peningkatan perhatian terhadap aplikasi prinsip belajar untuk solusi problem praktis.
BEBERAPA PERTANYAAN TENTANG BELAJAR YANG BELUM TERJAWAB
1.      Bagaimana Belajar Bervariasi Sebagai Fungsi Pendewasaan?
2.      Apakah Belajar Bergantung Pada Penguatan?
3.      Bagaimana Belajar Bervariasi Sebagai Fungsi Spesies?
4.      Dapatkah Beberapa Asosiasi Dipelajari Dengan Lebih Mudah Ketimbang Lainnya?
5.      Bagaimana Perilaku Yang Dipelajari Berinteraksi Dengan Perilaku Instingtif?
6.      Bagaimana Belajar Bervariasi Sebagai Fungsi Dari Karakteristik Personalitas?
7.      Sejauh Mana Belajar Adalah Fungsi Dari Lingkungan Keseluruhan?
8.      Bagaimana Semua Pertanyaan Diatas Berhubungan Dengan Tipe Belajar?
BELUMADA JAWABAN FINAL TENTANG PROSES BELAJAR
Tidak ada jawaban final berkenaan dengan sifat proses belajar dalam buku ini. Tetapi, fakta itu tidak perlu membuat mahasiswa patah asa, sebab dalam sains tidak pernah ada jawaban final. Dalam menentukan perilaku manusia, tidak ada proses yang lebih penting ketimbang belajar, dan jika begitu, maka salah upaya yang penting yang bisa dilakukan sesorang adalah membantu mengungkapkan misteri dibalik proses belajar itu.

RINGKASAN BUKU THEORIES OF LEARNING BAB 10




RINGKASAN
Judul buku    : Theories Of Learning 7th Edition
Pengarang    : B.R. Hergenhahn, Mathew H. Olson
Nama  : Rizaldi Fida Setiawan
NIM    : 5101413010
Blog    : rizaldifidasetiawan.blogspot.com
BAB X
TEORI GESTALT
Setelah J.B.Watson, behaviorisme marak dikalangan psikolog Amerika dan sejak saat itu kebanyakan teoritisi besar, seperti Guthrie, Skinner, dan Hull menjadi penganut behaviorisme. Serangan behavioristk terhadap metode intropektif dari dari Wundt dan Titchener menyebabkan introspeksionisme ditinggalkan sepenuhnya. Pada saat yang hampir bersamaan, ketikakaum behavior menyerang kaum instropeksi di Amerika, sekelompok psikologi mulai menyerang penggunaannya di Jerman. Kelompok ini menamakan dirinya psikolog Gestalt. Meskipun  Max Wertheimer (1880-1943) dianggap sebagai pendiri psikologi Gestalt, sejak awal dia sudah bekerja sama dengan dua orang yang dianggap juga sebagai bapak pendiri, yakni Walfgang Kohler (1887-1967) dan Curt Koffka (1886-1941). Kohler dan Koffka berpartisipasi dalam eksperimen pertama yang dilakukan oleh Wertheimer.

PENENTANGAN TERHADAP  VOLUNTARISME, STRUKTURALISME, DAN BEHAVIORISME.
Strukturalis menggunakan metode introspektif untuk menemukan elemen-elemen pemikiran. Perhatian utama mereka adalah untuk menemukan ide sederhana yang dianggap sebagai blog pembangun pemikiran yang lebih kompleks. Gerakan fungsionalis, dibawah pengaruh pemikiran Darwinian, mendapat momentum di Amerika dan mulai menentang strukturalisme. Fungsionalis terutama memerhatikan bagaimana proses perilaku atau pemikiran manusia berhubungan dengan usaha bertahan hidup (survival), dan mereka menyerang strukturalis yang mengabaikan pendekatan ini. Jadi, Strukturalis dikritik bahkan sebelum behavioris muncul. Behavioris berusaha untuk menjadikan psikologi benar-benar ilmiah, dan keilmiahan selalu membutuhkan ukuran. Mereka menyimpulkan bahwa satu-satunya pokok persoalan psikologi yang dapat diukur secara reliabel dan jelas adalah perilaku yang tampak. Deskripsi elemen kesadaran, seperti yang dilakukan dalam voluntarisme dan strukturalisme, dianggap tidak reliabel karena ia dipengaruhi oleh, antara lain, kemampuan verbal si pelapor.

KONSEP TEORITIS UTAMA
TEORI MEDAN
Psikologi Gestalt dapat dianggap sebagai usaha untuk mengaplikasikan field theory (teori medan) dari fisika ke problem psikologi. Secara umum, field (medan) dapat dideskripsikan sebagai sistem yang saling terkait secara dinamis, dimana setiap bagiannya saling memengaruhi satu sama lain. Hal penting dalam suatu medan adalah bahwa tidak ada yang eksis secarfa terpisah atau terisolasi.

NATURE VERSUS NURTURE
Behavioris cenderung melihat otak sebagai penerima pasif terhadap sensasi yang pada gilirannya akan menghasilkan respons. Menurut pendapat ini, otak adalah semacam papan penghubung yang kompleks.

HUKUM PRAGNANZ
Perhatian utama psikolog Gestalt adalah pada fenomena perseptual. Selama bertahun – tahun, lebih dari seratus prinsip perseptual telah dikaji oleh teoritisi gestalt. Tetapi salah satu prinsip yang menonjol berlaku untuk semua kejadian mental, termasuk prinsip persepsi, yakni law of pragnanz (pragnan adalah kata jerman yang berarti “esensi”). Koffka (1935-1963) mendeskripsikan hukum pragnanz sebagai berikut: “penataan psikologis selalu sebaik yang diizinkan oleh lingkungan pengontrolnya.” Yang dimaksud “baik” oleh Koffka adalah kualitas-kualitas seperti sederhana, komplet, ringkas, simetris, atau harmonis.

OTAK DAN PENGALAMAN SADAR
Setiap teori psikologi utama pasti dalam beberapa hal menyinggung problem hubungan tubuh-pikiran. Behavioris memecahkan problem tubuh pikiran dengan mengabaikannya. Mereka berkonsentrasi pada perilaku untuk menghindari problem tubuh-pikiran. Voluntaris percaya bahwa pikiran dapat mengatur elemen-elemen pikiran menjadi banyak konfigurasi dan perilaku ditimbulkan oleh hasil konfigurasi itu. Jadi, menurut voluntaris, pikiran aktif amat memengaruhi perilaku.

REALITAS SUBJEKTIF DAN OBJEKTIF
Karena kiita dapat merasakan impuls dari dunia fisik hanya setelah impuls itu diubah oleh otak, lalu apa yang menentukan perilaku? Penentunya bukan lingkungan fisik sebab, dalam satu pengertian, kita tak pernah merasakan lingkungan fisik secara langsung. Menurut gestalt, yang menentukan perilaku adalah kesadaran atau realitas subjectif, dan fakta ini mengandung implikasi penting.

PRINSIP BELAJAR GESTALT
Belajar, menurut Gestaltis, adalah fenomena kognitif. Organisme “mulai melihat” solusi setelah memikirkan problem. Pembelajar memikirkan semua unsur yang dibutuhkan untuk memecahkan problem dan menempatkannya bersama (secara kognitif) dalam satu cara dan kemudian ke cara-cara lainnya sampai problem terpecahkan.

PENDAPAT PSIKOLOGI GESTALT MENGENAI PENDIDIKAN
Bruner dan Holt menganut gagasan Gestaltian bahwa belajar adalah memuaskan secara personal dan tidak perlu didorong-dorong oleh penguatan eksternal. Belajar berdasarkan pendapat Gestalt bisa dimulai dengan sesuatu yang familiar dan setiap langkah dalam pendidikan didasarkan pada hal-hal yang sudah dikuasai. Guru yang berorientasi Gestalt mungkin menggunakan teknik ceramah (lecture), tetapi ia akan berusaha agar selalu ada interaksi antara guru dan murid. Setelah siswa memahami prinsip dibalik pengalaman belajar barulah mereka bisa memahaminya dengan sesungguhnya. Ketika hal-hal yang dipelajari telah dipahami, bukan hanya diingat, maka ia dapat dengan mudah diaplikasikan ke situasi yang baru dan dipertahankan dalam jangka waktu yang lama.

EVALUASI TEORI GESTALT
Kontribusi
Kontrbusi penting psikologi Gestalt adalah kritikannya terhadap pendekatan molekukar atau atomistik dari behaviorisme S-R. Ditunjukan bahwa baik untuk persepsi maupun belajar dicirikan oleh proses kognitif yang mengorganisasikan pengalaman psikologis.
Kritik
Biasanya teori retisi [Gestalt] telah mengembangkan sistem mereka di area lain lalu berusaha mengumpulkan psikologi belajar sebagai dividen tambahan tanpa banyak investasi tambahan. Jika pendapat ini benar, maka teori belajar yang paling unggul memberi dampak paling kecil terhadap riset.

RINGKASAN BUKU THEORIES OF LEARNING BAB 4




RINGKASAN
Judul buku    : Theories Of Learning 7th Edition
Pengarang    : B.R. Hergenhahn, Mathew H. Olson
Nama  : Rizaldi Fida Setiawan
NIM    : 5101413010
Blog    : rizaldifidasetiawan.blogspot.com

BAB IV
EDWARD LEE THORNDIKE
Kita awali diskusi tentang teoritisi belajar utama dengan Edward Lee Thorndike (1871-1949), yang mungkin adalah ahli teori belajar terbesar sepanjang masa. Dia bukan hanya merintis karya besar dalam teori belajar tetapi juga dalam bidang psikologi pendidikan, perilaku verbal, psikologi komparatif, uji kecerdasan, problem nature, transfer training, dan aplikasi pengukuran kuantitatif untuk problem sosiopsikologis. Thorndike memulai proyek yang disebut belakangan ini, dan juga proyek lainya, saat dia sudah berusia lebih dari 60 tahun.

RISET HEWAN SEBELUM THORNDIKE
Pendapat Descartes bahwa tubuh manusia dan binatang berfungsi berdasarkan prinsip mekanis yang sama tidak banyak menimbulkan penelitian anatomis terhadap binatang, tetapi adalah Darwin yang menunjukan bahwa manusia dan manusia adalah sama dalam hampir semua aspeknya: secara anatomis, emosional, dan kognitif. The Expression of Emotions Man and Animals karya Darwin (1872). Tak lama setelah Darwin memublikasikan bukunya itu, sahabatnya, George John Romanes (1848-1894) memublikasikan buku Animal Intelliegence(1882), Mental Evolutioin in Animals (1884) dan Mental Evolution in Man (1885).


KONSEP TEORETIS UTAMA
KONEKSIONISME
Thorndike menyebut asosiasi antara kesan indrawi dan impuls dengan tindakan sebagai ikatan/kaitan atau koneksi. penekananya pada aspek fungsional dari perilaku terutama dipengaruhi oleh Darwin. Teori Thorndike bisa dipahami sebagai kombinasi dari asosanisme, Darwinisme, dan metode ilmiah.

PEMILIHAN DAN PENGAITAN
Menurut Thorndike bentuk paling dasar dari proses belajar adalah trial-and-eror learning, atau yang disebutnya sebagai selecting and connecting.

BELAJAR ADALAH INKREMENTAL, BUKAN LANGSUNG KE PENGERTIAN MENDALAM (INSIGHTFUL)
Dengan mencatat penurunan gradual dalam waktu untuk mendapatkan solusi sebagai fungsi percobaan suksesif, Thorndike menyimpulkan bahwa belajar bersifat incremental (bertahap), bukan insightful (langsung ke pengertian).

THORNDIKE SEBELUM 1930
PEMIKIRAN
Thorndike tentang proses belajar dapat dibagi menjadi dua bagian: pertama adalah pemikiran sebelum 1930 dan kedua adalah pasca 1930, ketika beberapa pandangan awalnya berubah banyak.


HUKUM KESIAPAN
Law of readiness (hukum kesiapan) yang dikemukakan dalam bukunya uang berjudul The Original Nature of  Man (Thorndike, 1930), mengandung tiga bagian:
11.   Apabila satu unit konduksi siap menyalurkan , maka penyaluran denganya akan memuaskan.
22. Apabila satu unit konduksi siap untuk menyalurkan, maka tidak menyalurkannya akan   menjengkelkan.
33.   Apabila satu unit konduksi belum siap untuk penyaluran dan dipaksa untuk menyalurkan,  maka penyaluran dengannya akan menjengkelkan.

HUKUM LATIHAN
Sebelum 1930, teori Thorndike mencakup hukum law of exercise, yang terdiri dari dua bagian:
11.  Koneksi antara stimulus dan respons akan menguat saat keduanya dipakai.
22. Koneksi antara situasi dan respons akan melemah apabila praktik hubungan dihentikan atau jika ikatan neural tidak dipakai.

HUKUM EFEK
Law of effect (hukum efek), yang digagasnya sebelum tahun 1930, adalah penguatan atau pelemahan dari suatu koneksi antara stimulus dan respons sebagai akibat dari konsekuensi dari respons.

KONSEP SEKUNDER SEBELUM 1930
Sebelum 1930, teori Thorndike mencakup sejumlah ide yang kurang penting ketimbang hukum kesiapan, efek, dan latihan. Konsep sekunder ini antara lain respons berganda, set atau sikap, prapotensi elemen, respons dengan analogi, dan pergeseran asosiatif.