Selasa, 18 Maret 2014

RINGKASAN BUKU THEORIES OF LEARNING BAB 2

RINGKASAN
 Judul buku : Theories Of Learning 7th Edition
Pengarang : B.R. Hergenhahn, Mathew H. Olson
Nama : Rizaldi Fida Setiawan
NIM : 5101413010 Blog : rizaldifidasetiawan.blogspot.com
BAB II
PENDEKATAN UNTUK STUDI TENTANG BELAJAR
Saat kita mengkaji belajar, kita mengamati perilaku atau tindakan, dan berdasarkan pengamatan ini kita menyimpulkan tipe belajar tertentu yang telah terjadi atau yang tak terjadi. Sulitnya melakukan pengamatan langsung inilah yang menimbulkan begitu banyak pendekatan studi. beberapa pihak menyatakan bahwatempat terbaik untuk mengkaji belajar adalah dilapangan (dalam kenyataan) bukan dilaboratorium. Metode mempelajari fenomena saat fenomena itu terjadi secara alamiah dinamakan naturalistic observation (observasi naturalistik). Dengan teknik ini, kita melakukan observasi atau pengamatan secara mendetail dan membuat catatan atas apa-apa yang tengah dikaji. Tetapi ada dua kekurangan utama dalam pendekatan observasi naturalistis ini. Pertama, karena situasi kelas sangatlah kompleks maka sulit untuk mengamati dan mencatat dengan akurat. Kedua, ada kecenderungan untuk mengklasifikasi peristiwa ke dalam bagian-bagian yang mungkin terlalu komprehensif.

STUDI SISTEMATIS TERHADAP BELAJAR
Dimasa modern, bagian dari psikologi yang membahas proses belajar telah menjadi makin ilmiah (scientific).

APAKAH ILMU PENGETAHUAN ITU?
Menurut Hergenhan dan Olson (2003), Science (Ilmu Pengetahuan Ilmiah) mengombinasikan dua pandangan filsafat kuno tentang asal usul pengetahuan. Salah satunya, yang dinamakan rasionalisme, menyatakan bahwa seseorang mendapatkan pengetahuan dengan menggunakan pikiran, atau dengan kata lain dengan berpikir, menalar dan menggunakan logika. Pandangan yang Kedua, dinamakan empirisme, menyatakan bahwa pengalaman indrawi adalah basis dari semua pengetahuan. Jadi rasionalis menekankan pada operasi mental sedangkan empiris menyamakan pengetahuan dengan pengalaman.

ASPEK – ASPEK TEORI
Petama, sebuah teori memiliki formalaspect (aspek formal), yang mencakup kata da simbol yang ada di dalam teori. Kedua, sebuah teori memiliki empirical aspect (aspek empiris), yang terdiri dari periatiwa-peristiwa fisik yang hendak dijelaskan oleh teori itu. “Semua proses belajar tergantung pada niat” mungkin masuk akal secara formal tapi tidak menjelaskan secara akurat mengenai proses belajar itu.Maksudnya adalah sebuah teori boleh terdengar valid, tetapi tidak mengandung makna ilmiah kecuali ia mampu bertahan dalam menghadapi ujian eksperimental yang ketat.

DARI RISET HINGGA TEORI
Untuk contoh umum dari penggunaan teori dalam psikologi, kita dapat merujuk ke riset yang meneliti hubungan antara penyingkiran antara penyingkiran makanan dan tingkat belajar, dengan makanan sebagai penguat. Seorang periset menemukan bahwa ketika hewan tidak di beri makan dalam waktu yang lebih lama, proses belajar terjadi dengan lebih cepat. Artinya, hewan yang makanannya disingkirkan dalam waktu yang paling lama akan belajar belok ke kiri dengan paling cepat.

TEORI SEBAGAI ALAT
Karena teori hanya alat riset, ia tidak bisa dikatakan salah atau benar, ia bisa dikatakan berguna atau tak berguna. Jika sebuah teori menjelaskan berbagai observasi, dan jika teori memicu riset lanjutan, maka teori itu bagus. Jika ia gagal dalam satu dari kedua hal itu, maka periset mungkin akan melakukan riset lagi untuk menemukan teori baru. Jika sebuah hipotesis yang dihasilkan oleh sebuah teori bisa dikonfirmasi atau diterima, maka teori itu akan makin kuat. Jika hipotesis yang dihasilkan dari teori itu tertolak, maka teori itu akan menjadi lemah dan harus direvisi atau ditinggalkan. Jadi, kita melihat bahwa teori harus terus-menerus menghasilkan hipotesis dasar yang mungkin membuktikan bahwa teori itu tidak efektif.

PRINSIP PARSIMONI
Kita telah mencatat bahwa slah satu karakteristik dari ilmu pengetahuan adalah ia hanya berhubungan dengan pernyataan yang secaranprinsip dapat diverifikasi. Karakteristik lain dari ilmu pengetahuan adalah bahwa ia mengikuti principle of parsimony (terkadang disebut prinsip ekonomi, pisau cukur occam, atau kanon morgan). Prinsip ini menyatakan bahwa ketika dua teori yang sama-sama efektif dapat menjelaskan fenomena yang sama, tetapi salah satu penjelasanya adalah lebih sederhana dan yang satunya lagi lebih kompleks, maka kita harus menggunakan penjelasan yang lebih sederhana. Ringkasan Karakteristik Teori Ilmiah 1. Teori mensintesiskan sejumlah observasi 2. Teori yang baik bersifat heuristik; artinya bisa menimbulkan riset baru. 3. Teori harus menghasilkan hipotesis yang dapat diverifikasi secara empiris. 4. Teori adalah alat dan karenanya tidak bisa dikatakan salah atau benar, ia bisa dikatakan berguna atau tidak berguna. 5. Teori dipilih berdasarkan hukum parsimoni: Dari dua teori yang sama-sama efektif, yang lebih sederhanalah yang harus dipilih. 6. Teori memuat asbtraksi, seperti angka atau kata, yang merupakan aspek formal dari teori. 7. Aspek formal dari suatu teori harus dikorelasikan dengan kejadian yang dapat diamati, yang merupakan aspek empiris dari suatu teori. 8. Semua teori adalah usaha untuk menjelaskan kejadian empiris, dan karenanya harus diawali dan diakhiri dengan observasi empiris.

EKSPERIMEN BELAJAR
Jalanya teori ke riset; Pertama, kita harus menjelaskan sebuah pokok persoalan (subject matter). Ini biasanya berbentuk definisi umum tentang belajar atau deskripsi umum tentang fenomena yang dikaji. Kita harus mengubah pernyataan teoritis tentang proses belajar dalam term aktivitas atau pelaksanaan eksperimental yang dapat diidentifikasi dan dapat diulang. Ini dinamakan operational definition. Setelah periset secara operasional mendefinisikan istilah teoritisnya, mereka siap untuk bereksperimen. Setiap eksperimen melibatkan sesuatu yang perubahannya diukur, yakni dependent variable (variabel terikat), dan sesuatu yang dikontrol atau dimanipulasi oleh eksperimenter untuk melihat efeknya terhadap variabel terkait itu, yakni independent variable (variabel lepas atau bebas).

KEPUTUSAN ARBITRER DALAM MENENTUKAN EKPERIMEN BELAJAR
Ilmuwan sering sangat emosional, sangat subjektif, dan kebenaran yang mereka temukan bersifat dinamis dan probabilistik. Karakteristik ini bisa dilihat dalam jumlah keputusan arbitrer dalam menentukan setiap eksperimen belajar. Jumlah keputusan arbitrer ini akan diringkas dibawah ini : 1.Aspek Apa dari Proses Belajar yang Harus Diteliti? Aspek yang harus diteliti tentu saja sebagian ditentukan oleh teori tentang belajar yang dianut seseorang. 2.Teknik Idiografis vs. Nomotetis Skinner menggunakan teknik idiografis, dan Hull menggunakan teknik nomotetis. 3.Subjek Manusia vs. Subjek Hewan Nonmanusia. Ada banyak alasan kenapa periset memilih menggunakan non manusia meski pilihan ini menimbulkan sejumlah kesulitan. 1.Sejarah belajar subjek nonmanusia dapat dikontrol lebih mudah. 2.Subjek nonmanusia tidak akan mengeluh 3.Dengan menggunakan subjek non manusia, latarbelakang genetik dari subjek tersebut dapat dimanipulasi secara sistematis. 4.Hubungan antara obat tertentu dengan proses belajar dapat diteliti pada subjek non manusia. 5.Berbagai teknik pembedahan dapat dipakai untuk subjek nonmanusia 6.Hewan selalu bisa dikendalikan.

PENGGUNAAN MODEL
Random House Dictionary of the English Language mendefinisikan analogy sebagai “parsial similarity between like features of two things, on which a comparison may be based” (kemiripan parsial antara ciri-ciri yang serupa dari dua hal, yang bisa disajikan dasar perbandingan).

BELAJAR DALAM LABORATORIUMS OBSERVASI NATURALISTIS
Beberapa periset berpendapat bahwa yang paling baik adalah mengombinasikan observasi naturalistis dan percobaan laboratorium. Artinya, kita dapat melakukan observasi awal disuatu lapangan, mengkajinya secara lebih mendetail di laboratorium, dan kemudian mengamati fenomena itu lagi di lapangan dengan pemahaman yang lebih besar yang diperoleh dari percobaan di laboratorium.

PANDANGAN KUHN TENTANG BAGAIMANA ILMU PENGETAHUAN BERUBAH
Dalam buku The Structure of Scientific Revolutions yang trbit pada 1973, Thomas Kuhn (1922-1996) menyajikan pandangan yang berbeda mengenai ilmu pengetahuan. Menurut Kuhn, Ilmuwan yang bekerja di bidang tertentu biasanya menerima sudut pandang tertentu tentang apa-apa yang sedang dipelajari.

PANDANGAN POPPER TENTANG ILMU PENGETAHUAN
Ilmu pengetahuan dianggap berkaitan dengan observasi empurus, pembentukan teori, pengujian teori, revisi teori, dan pencarian kaidah hubungan tertentu. Menurut Pooper (1963), aktivitas keilmuan ilmiah tidak berawal dengan observasi empiris, namun ia berawal dengan adanya problem.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar