RINGKASAN
Judul buku :
Theories Of Learning 7th Edition
Pengarang : B.R. Hergenhahn, Mathew H. Olson
Nama : Rizaldi Fida Setiawan
NIM : 5101413010
Blog : rizaldifidasetiawan.blogspot.com
BAB IV
EDWARD LEE
THORNDIKE
Kita awali
diskusi tentang teoritisi belajar utama dengan Edward Lee Thorndike (1871-1949), yang mungkin adalah ahli teori belajar
terbesar sepanjang masa. Dia bukan hanya
merintis karya besar dalam teori belajar tetapi juga dalam bidang psikologi
pendidikan, perilaku verbal, psikologi komparatif, uji kecerdasan, problem
nature, transfer training, dan aplikasi pengukuran kuantitatif untuk problem
sosiopsikologis. Thorndike memulai proyek yang disebut belakangan ini, dan juga
proyek lainya, saat dia sudah berusia lebih dari 60 tahun.
RISET HEWAN SEBELUM THORNDIKE
Pendapat
Descartes bahwa tubuh manusia dan binatang berfungsi berdasarkan prinsip
mekanis yang sama tidak banyak menimbulkan penelitian anatomis terhadap
binatang, tetapi adalah Darwin yang
menunjukan bahwa manusia dan manusia adalah sama dalam hampir semua aspeknya:
secara anatomis, emosional, dan kognitif. The Expression of Emotions Man and
Animals karya Darwin (1872). Tak lama setelah Darwin memublikasikan bukunya
itu, sahabatnya, George John Romanes (1848-1894) memublikasikan buku Animal Intelliegence(1882), Mental
Evolutioin in Animals (1884) dan Mental Evolution in Man (1885).
KONSEP TEORETIS
UTAMA
KONEKSIONISME
Thorndike menyebut asosiasi antara kesan indrawi dan
impuls dengan tindakan sebagai ikatan/kaitan atau koneksi. penekananya pada aspek fungsional dari perilaku
terutama dipengaruhi oleh Darwin. Teori Thorndike bisa dipahami sebagai
kombinasi dari asosanisme, Darwinisme, dan metode ilmiah.
PEMILIHAN DAN
PENGAITAN
Menurut Thorndike bentuk paling dasar dari proses
belajar adalah trial-and-eror learning, atau yang disebutnya sebagai selecting
and connecting.
BELAJAR ADALAH INKREMENTAL, BUKAN LANGSUNG KE
PENGERTIAN MENDALAM (INSIGHTFUL)
Dengan mencatat penurunan gradual dalam waktu untuk
mendapatkan solusi sebagai fungsi percobaan suksesif, Thorndike menyimpulkan
bahwa belajar bersifat incremental (bertahap), bukan insightful (langsung ke
pengertian).
THORNDIKE
SEBELUM 1930
PEMIKIRAN
Thorndike
tentang proses belajar dapat dibagi menjadi dua bagian: pertama adalah
pemikiran sebelum 1930 dan kedua adalah pasca 1930, ketika beberapa pandangan
awalnya berubah banyak.
HUKUM KESIAPAN
Law of readiness (hukum kesiapan) yang dikemukakan
dalam bukunya uang berjudul The Original Nature of Man (Thorndike, 1930),
mengandung tiga bagian:
11. Apabila satu unit konduksi siap menyalurkan , maka
penyaluran denganya akan memuaskan.
22. Apabila satu
unit konduksi siap untuk menyalurkan, maka tidak menyalurkannya akan
menjengkelkan.
33. Apabila
satu unit konduksi belum siap untuk penyaluran dan dipaksa untuk menyalurkan, maka penyaluran dengannya akan
menjengkelkan.
HUKUM LATIHAN
Sebelum 1930, teori Thorndike mencakup hukum law of
exercise, yang terdiri dari dua bagian:
11. Koneksi antara stimulus dan respons akan menguat saat
keduanya dipakai.
22. Koneksi antara
situasi dan respons akan melemah apabila praktik hubungan dihentikan atau jika
ikatan neural tidak dipakai.
HUKUM EFEK
Law of effect (hukum efek), yang digagasnya sebelum
tahun 1930, adalah penguatan atau pelemahan dari suatu koneksi antara stimulus
dan respons sebagai akibat dari konsekuensi dari respons.
KONSEP SEKUNDER
SEBELUM 1930
Sebelum 1930, teori Thorndike mencakup sejumlah ide
yang kurang penting ketimbang hukum kesiapan, efek, dan latihan. Konsep
sekunder ini antara lain respons berganda, set atau sikap, prapotensi elemen,
respons dengan analogi, dan pergeseran asosiatif.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar